![]()
goodmoneyID – Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,29 persen (year-on-year/yoy)pada Triwulan II 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,12 persen. Capaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, didukung oleh kuatnya investasi, meningkatnya konsumsi masyarakat, serta kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli dan mendorong aktivitas ekonomi.
APBN terus berperan sebagai instrumen fiskal yang responsif untuk menjaga stabilitas ekonomi, meredam dampak tekanan eksternal, sekaligus mendukung dunia usaha dan pelaksanaan berbagai program prioritas nasional.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pemerintah akan terus memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural.
“Di tengah tantangan global yang masih tinggi, Pemerintah akan terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural guna menjaga momentum pertumbuhan yang lebih tinggi.”
Dari sisi pengeluaran, konsumsig rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 5,06 persen (yoy). Kinerja tersebut didukung oleh terjaganya daya beli melalui penyaluran gaji ke-13, program perlindungan sosial, subsidi pemerintah, serta inflasi yang tetap terkendali. Optimisme masyarakat juga tercermin dari meningkatnya aktivitas belanja, penjualan listrik, kendaraan bermotor, dan konsumsi bahan bakar minyak.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen (yoy), didorong percepatan belanja barang dan belanja pegawai seiring implementasi berbagai program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat. Belanja pemerintah tersebut diharapkan memberikan efek berganda terhadap aktivitas usaha, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan konsumsi masyarakat.
Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan kuat sebesar 6,87 persen (yoy). Peningkatan ini didorong oleh investasi bangunan dan nonbangunan, belanja modal pemerintah, serta meningkatnya investasi swasta. Realisasi investasi langsung juga tumbuh 7,1 persen, terutama didukung peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA), yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Di sektor perdagangan internasional, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13 persen (yoy), terutama didorong ekspor CPO, batu bara, serta produk hilirisasi seperti nikel, tembaga, dan aluminium. Di sisi lain, impor meningkat 8,82 persen (yoy) seiring naiknya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi untuk mendukung aktivitas industri dalam negeri.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor Perdagangan (6,39 persen), Konstruksi (6,68 persen), serta Informasi dan Komunikasi (6,97 persen). Sementara itu, Industri Pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian dengan pertumbuhan 4,52 persen (yoy), didukung oleh industri makanan dan minuman serta industri barang logam dan elektronik.
Sektor yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat juga menunjukkan kinerja positif. Transportasi dan Pergudangantumbuh 5,65 persen (yoy), sedangkan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat pertumbuhan dua digit sebesar 10,60 persen (yoy), sejalan dengan meningkatnya aktivitas pariwisata dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Di sisi lain, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh 3,80 persen (yoy), didukung meningkatnya permintaan pangan domestik.
Secara regional, Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan pangsa 56,47 persen dan pertumbuhan 5,65 persen (yoy). Pertumbuhan tertinggi tercatat di wilayah Bali dan Nusa Tenggarasebesar 6,10 persen, sedangkan Sumatra dan Kalimantan masing-masing tumbuh 5,06 persen dan 4,10 persen. Meski pertumbuhan di Maluku dan Papua melambat menjadi 1,36 persen akibat moderasi sektor pertambangan, seluruh wilayah Indonesia tetap berada dalam jalur ekspansi.
Kinerja ekonomi pada Triwulan II 2026 menunjukkan bahwa konsumsi domestik yang kuat, investasi yang terus meningkat, serta kebijakan fiskal yang adaptif berhasil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah akan terus memperkuat reformasi struktural dan menjaga sinergi kebijakan agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan, inklusif, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.