Halal Haram Bahan Dalam Kosmetika

Foto: Ilustrasi Alat Makeup (Sumber: Pexels)

“Kecantikan adalah anugerah Tuhan yang harus kita pelihara, namun bagi muslimah, merawat dan memelihara kecantikan bukan artinya harus menghalalkan segala cara,”

 

goodmoneyID – Menjadi cantik adalah impian tiap wanita, tak heran jika wanita sibuk mempercantik wajahnya demi menarik perhatian dari lawan jenis. Berbagai produk kecantikanpun kini dijual bebas di berbagai toko kecantikan baik online maupun offlline.

Namun apakah kita sebagai muslimah tahu, bahwa produk kosmetik yang kita pakai terhidnar dari bahan bahan yang tidak diperbolehkan dalam islam atau haram?

Kosmetik memiliki beberapa titik kritis kehalalalan yang menjadikan kosmetik ini penting untuk disertifikasi halalnya. Kita kaum muslimah, penting untuk memperhatikan bahwa kosmetik yang kita pakai itu sudah jelas halalnya.

Titik kritis kehalalan pada kosmetik

Secara umum, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian ketika berbicara tentang titik kritis kehalalan kosmetik.

Pertama, dari sisi bahan

Bahan harus diperiksa secara detail melalui laboratorium apakah produk mengandung bahan najis atau bahan nonhalal atau tidak.

Kosmetik dapat dihasilkan dari beragam bahan, diantaranya tumbuhan, produk mikrobial, hewan, dan manusia. Mari kita bahas satu per satu.

Tumbuhan menjadi salah satu bahan yang sering digunakan dalam kosmetik. Pada dasarnya, tumbuhan termasuk ke dalam daftar bahan tidak kritis (positive list).

Namun, tumbuhan melalui berbagai proses untuk menjadi suatu produk kosmetik. Proses tersebut memerlukan bahan-bahan lain yang digunakan untuk menolong keberhasilan proses tersebut. Sehingga harus dipastikan bahan penolong tersebut terbebas dari najis atau bahan nonhalal.

Bahan selanjutnya yang juga sering digunakan dalam kosmetik bersumber dari hewan. Yang saat ini sedang popular adalah kolagen atau plasenta sebagai antiaging atau antikerut.

Ini harus diperhatikan, sebab kolagen adalah produk hewani yang bisa berasal dari hewan yang halal dari sapi atau ikan, atau hewan haram seperti babi. Hal ini jika hanya membaca dari ingredients dalam kemasan itu tidak terlihat.

Yang tak kalah populer dan tinggi titik kritis kehalalannya adalah plasenta atau ari-ari. Menurut Fatwa MUI, plasenta itu boleh digunakan jika berasal dari jenis hewan yang halal dan hanya untuk penggunaan luar. Misalnya, sapi melahirkan kemudian plasenta bayinya digunakan.

Namun, yang perlu menjadi perhatian khusus, ketika sapi mati saat sedang hamil, lalu diambil plasentanya maka hukumnya menjadi haram. Hal ini karena status hewannya sudah mati. Plasenta dari hewan yang haram, seperti babi, juga tidak boleh digunakan. Apalagi dengan plasenta manusia. Di luar negeri, plasenta manusia masih bisa digunakan sebagai bahan kosmetik.

Turunan asam lemak juga sering digunakan sebagai perisa atau pewangi. Bahan ini bisa berasal dari tumbuhan dan hewan. Banyak turunan asam lemak yang bentuknya sudah bukan lagi lemak, tapi sudah menjadi susunan senyawa kimia baru yang sederhana.

Kedua dilihat dari sisi tembus airnya

Sudah banyak saat ini kosmetik yang diciptakan anti air (water resistant). Hal ini untuk menjaga kosmetik tahan lama saat digunakan.

Penting bagi muslim untuk memperhatikan hal ini. Jangan sampai ada penggunaan kosmetik yang membuat anggota tubuh kita tertutup, tidak dapat tembus air. Sehingga pada saat berwudhu, air tidak mengenai anggota tubuh. Alhasil, wudhu menjadi tidak sah.

Salah satunya produk yang sering kali dibuat water resistant adalah eyeliner. Tentunya, hal ini diciptakan sesuai dengan permintaan pasar, agar tidak mudah luntur saat berkeringat atau bahkan menangis.

“Justru yang menjadi kritis karena produk anti air. Walaupun bahan sudah halal semua, tapi ternyata menghalangi air wudhu. Nah, itu dikhawatirkan wudhu menjadi tidak sah,” jelas Ir. Muti Arintawati, M.Si., Wakil Direktur LPPOM MUI, melansir halalmui.org.

Karena itu, pengujian tembus air menjadi salah satu hal wajib yang dilakukan saat proses sertifikasi halal. LPPOM MUI saat ini sudah memiliki laboratorium yang terakreditasi ISO 17025, termasuk di dalamnya uji tembus air.

Tentu hal ini akan sulit jika hanya mengandalkan ingredients yang tercantum dalam kemasan.

Carilah kosmetika yang berasal dari sumber lemak nabati (tumbuh-tumbuhan) dan hindarkan kosmetika yang menggunakan bahan-bahan meragukan, seperti plasenta, kolagen, gelatin, chivet, dan lemak hewani. Anda bisa mendapatkan informasi tersebut pada label kemasannya. Jika tidak ada keterangan ingredient yang dibutuhkan, sebaiknya dihindari. Hal paling mudah yang bisa dilakukan adalah memilih produk berlogo halal MUI.