Imbas Covid-19, Daya Beli Barang Mewah Terjun Bebas

Foto: Ilustrasi sepinya pusat perbelanjaan (pexels).

goodmoneyID – Lembaga konsultan menejemen internasional McKinsey mengungkapkan khawatir terhadap konsumen indonesia tak bisa penuhi kebutuhannya di tengah pandemi Covid-19. Bahkan kekhawatiran ini lebih tinggi dari pada China dan India.

Co-Leader of Consumer Packaged Goods and Retail Practices McKinsey in Southeast Asia Simon Wintels mengungkapkan orang di Indonesia mulai tak mampu beli barang mewah alias kebutuhan tersier.

Hal ini merujuk pada hasil survei lembaga konsultan menejemen internasional McKinsey yang menyebutkan bahwa daya beli konsumen Indonesia untuk belanja barang-barang tersier menurun. Diantaranya seperti, barang-barang mewah yakni mobil, motor, perhiasan, hingga jam mewah.

Ini terjadi karena pendapatan cenderung berkurang. Sementara, pengeluaran kebutuhan sehari-hari meningkat, jadi konsumen Indonesia lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan harian/primer.

“Sejumlah besar orang Indonesia menunjukkan bahwa mereka menyerah untuk membeli mobil dan motor, penurunan hingga 60%. Mereka juga menyerah untuk membeli jam tangan dan perhiasan,” terang  Simon Wintels, dalam siaran virtual hasil studi.

Adapun penurunan daya beli barang-barang tersier ini mencapai lebih dari 60%. Survei McKinsey juga menyebutkan bahwa pengeluaran konsumen di Indonesia untuk pembelian kendaraan, baik mobil dan motor turun 69%. Sementara pembelian perhiasan juga turun hingga 72%.

Lalu pembelian aksesoris seperti jam tangan mewah turun sampai 77%, pakaian turun 67%, dan alas kaki turun 69%.  Begitu juga dengan pengeluaran untuk bahan bakar yang turun hingga 54%, sewa mobil turun sampai 72%, dan berpergian dengan mobil turun 80%.

Sektor pariwisata apalagi, pengeluaran wisata turun hingga 85%, penerbangan internasional turun 80%, hotel, penginapan turun 84%, serta penerbangan domestik turun 86%.

Disebutkan juga oleh Wintels bahwa saat ini, sebagian besar orang melakukan pengeluaran yang sangat sedikit untuk kategori-kategori tersebut. Bahkan untuk pengeluaran makan di luar rumah juga turun sekitar 75% dan restoran 69%. Begitu pula dengan furnitur dan perlengkapan rumah turun 55%.

Sementara, pengeluaran untuk bahan pangan/pokok naik 50%, cemilan 31%, makanan melalui layanan pesan antar juga meningkat 19%, dan rokok meningkat sebanyak 14%.

Selain itu, kebutuhan rumah tangga juga naik 37%, produk anak non-makanan naik 25%, dan perawatan diri, seperti skincare dan make up naik 24%.

Mengingat saat ini kegiatan masyarakat Indonesia lebih banyak dilakukan di dalam rumah, otomatis kebutuhan hiburan saat berada di rumah juga meningkat  sebanyak 47%. Ini di antaranya seperti layanan streaming film online Netflix dan internet.