Indikator Stabilitas Nilai Rupiah Pekan Kedua Mei

Loading

goodmoneyID – Bank Indonesia (BI) hari ini Jumat (08/5/2020) merilis perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah terbaru pekan kedua Mei 2020, berisi perkembangan indikator nilai tukar dan inflasi.

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko dalam rilis BI mengungkapkan, Kamis (07/5) Rupiah ditutup pada level Rp14.980, dan dibuka melemah pada hari ini jumat (08/5) naik ke level Rp15.000.

Adapun yield surat berharga negara (SBN) 10 tahun naik ke level 8,07% pada Kamis (07/5) dan turun tipis menjadi 8,06% pada Jumat pagi ini. DXY atau (indeks Dolar yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya yakni EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF) naik ke level 99,89 pada Kamis (07/5).

Sedangkan yield UST (US Treasury Note atau surat utang yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun) naik level 0,641%. Lebih lanjut, BI mencatat aliran modal asing pada pekan kedua Mei ini, seperti premi CDS (credit default swaps) Indonesia 5 tahun turun ke 204,05 bps per 7 Mei 2020 dari 210,08 bps per 1 Mei 2020.

Berdasarkan data transaksi 4-6 Mei 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp6,95 triliun, dengan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,84 triliun, sementara di pasar SBN  jual neto sebesar Rp6,11triliun. Kemudian, berdasarkan data setelmen 4-6 Mei 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp2,01 triliun dan selama 2020 (year to date/ytd), tercatat jual neto Rp162,18 triliun.

Sementara itu, indikator inflasi, berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu I Mei 2020, perkembangan harga-harga pada bulan Mei 2020 diperkirakan mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya. Sehingga inflasi secara tahun kalender sebesar 0,74% (ytd), dan secara tahunan sebesar 2,02% (yoy).

Penyumbang utama deflasi pada periode laporan antara lain berasal dari komoditas telur ayam ras (-0,08%), bawang putih (-0,04%), cabai merah (-0,03%), cabai rawit (-0,03%), kangkung, bayam dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas utama yang menyumbang inflasi yaitu bawang merah (0,03%), daging ayam ras (0,02%), jeruk dan air minum kemasan masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

“BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.” tutup Onny Widjanarko.