Percepat Izin Investasi, BKPM Bikin “Pusat Kopi”

Bahlil Lahadalia, Ketua BKPM di "Pusat Kopi". (foto: BKPM).

goodmoneyID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia meluncurkan Command Center atau “Pusat Kopi BKPM” pada Senin, (23/3) di kantor BKPM, Jakarta.

Pusat Kopi adalah singkatan dari Pusat Komando & Pengawalan Investasi. Disiapkan sejak tahun 2019 lalu, Pusat Kopi ini ditujukan sebagai pusat komando/monitoring untuk pembuatan keputusan dalam mendukung respon suatu kejadian-kejadian penting, dan menyajikan data terupdate kinerja BKPM dan proses perjalanan perizinan yang nanti bisa di pantau oleh seluruh pelaku usaha.

“Dengan adanya Pusat Kopi ini, saya bisa langsung memantau langsung permohonan perizinan melalui Sistem Online Single Submission (OSS) secara harian. jadi nanti bisa ketahuan disini investasi berhentinya di kementerian mana, itu bisa ketahuan dengan aplikasi sistemnya, karena sistem yang kita bangun meliputi seluruh kementerian terkait,” ujar Bahlil, melalui siaran pers online, di Jakarta.

Adapaun, informasi yang dapat ditampilkan dalam Pusat Kopi BKPM, antara lain sentimen media sosial & media digital, statistik harian permohonan perizinan melalui Online Single Submission (OSS), Potensi Investasi Regional (PIR), tracking status perizinan suatu perusahaan (endto-end), pemantauan perizinan melalui OSS yang sedang diproses K/L lainnya, serta realisasi investasi.

Fungsi menarik lain dari Pusat Kopi yaitu dapat menampilkan data potensi investasi per wilayah yang ada dalam website BKPM Potensi Investasi Regional (PIR) www.regionalinvestment.bkpm.go.id. Potensi ini dapat kita sandingkan dengan data realisasi investasi di Indonesia secara berkala yang juga ada dalam Pusat Kopi.

“Di Pusat Kopi ada, data juga terkait potensi dan investasi seluruh wilayah di Indonesia, dari Provinsi, Kota, hingga Kabupaten. memang kami akui banyak perubahan terkait data basednya, tapi kita sedang susuan inventaris potensi sumber day yang kita pasarakan, dan sudah kita koordinasikan dengan kementerian lembaga,” tambah Bahlil.

Lanjut Bahlil, mungkin ada daerah yang potensinya besar tapi secara nilai realisasi investasi belum tinggi. Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi sehingga kami dapat menentukan langkah kebijakan yang diperlukan untuk menghasilkan investasi berkualitas.

Untuk membuat sistem Pusat Kopi, BKPM menghabiskan anggaran hingga Rp 24,5 Miliar, biaya Rp 1,5 miliar digunakan untuk membangun aplikasi, dan sebanyak Rp 23 miliar digunakan untuk pengembangan sistem. Pembangunan Pusat Kopi ini berlangsung selama 3 bulan, sejak pertama pembuatan pada bulan Desember 2019, lalu diselesaikan pada awal maret 2020.

Selain menyajikan data monitoring melalui layar besar, Pusat Kopi BKPM memiliki beberapa fasilitas lainnya seperti ruang presentasi, ruang rapat milenial, dan ruang Network Operations Center (NOC). Pusat Kopi juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan video conference dengan perwakilan BKPM di luar negeri serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk melakukan koordinasi tanpa melakukan tatap muka.