![]()
goodmoneyID – Serangkaian kegiatan yang menghubungkan visi inovasi masa depan dengan penguatan karakter bangsa digelar di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali pada 18 April 2026.
Sebagai kawasan yang tengah berkembang, KEK Kura Kura Bali yang dikelola oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID), kerap dipercaya menjadi ruang berlangsungnya dialog strategis lintas sektor yang tidak berhenti pada wacana, tetapi mendorong kolaborasi yang dapat diwujudkan.
Gelaran ini menjadi titik temu bagi para pemimpin nasional, pakar teknologi global, dan generasi muda untuk membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab serta melatih karakter kepemimpinan anak bangsa.
Membangun Ekosistem AI yang Bertanggung Jawab dan Inklusif
Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) menyelenggarakan forum publik “The Power of AI: Transforming Sustainable Enterprise and Entrepreneurship” serta perayaan kelulusan Happy Digital X (HDX) Cohort 3.0.
HDX merupakan program pendidikan eksekutif selama 12 minggu yang diselenggarakan oleh TSEA, Tsinghua Shenzhen International Graduate School, dan Tsinghua University, dengan fokus pada transformasi digital, kepemimpinan, dan keberlanjutan.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM, M. Riza A. Damanik, dan sejumlah tokoh penting lainnya.
Dalam sambutannya, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menegaskan urgensi regulasi AI yang bertanggung jawab.
“Kebutuhan akan regulasi AI yang kuat dan bertanggung jawab bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak yang tidak terelakkan.” ucapnya.
Meutya menegaskan bahwa Indonesia tengah merampungkan peta jalan AI nasional dan kerangka kerja etika melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan lintas sektor.
Ia juga mengapresiasi inisiatif pendidikan seperti program HDX dalam mencetak pemimpin masa depan yang siap merancang solusi teknologi yang memprioritaskan masyarakat.
Sementara itu, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM, M. Riza A. Damanik, menambahkan bahwa masa depan ekonomi Indonesia bergantung pada bagaimana UMKM mengadopsi teknologi.
“Masa depan bukan milik mereka yang sekadar memahami teknologi, melainkan milik mereka yang menerapkannya dengan disiplin, kreativitas, dan tujuan,” tegas Riza.
Forum ini berkesempatan menghadirkan para pemimpin teknologi dan start-up global. Pemimpin teknologi global tersebut berbagi wawasan mengenai masa depan kewirausahaan berbasis AI, serta pentingnya menjembatani kesenjangan antara kemampuan teknologi dan kesiapan masyarakat.
Salah satunya Donald Tirtaatmadja, Head of Technology AWS Indonesia yang menegaskan pihaknya berkomitmen untuk mendukung Bali sebagai destinasi utama bagi konferensi tingkat CXO di bidang AI, pengembangan Coders Village di Kura Kura Bali, serta diskusi mengenai tata kelola AI (AI governance roundtables),
Para panelis lainnya, Amit Gupta (Mantan Ketua TiE Global dan Group CEO C Founder Ecosystm Group) serta Dr. Peter D. Finn (Co-Founder Synectify) juga menyepakati bahwa Bali berada pada posisi yang tepat untuk Gerakan Non-Blok Digital (Digital Non-Aligned Movement) dalam mempromosikan kewirausahaan AI perorangan serta UMKM yang berdampak luas dan inklusif berbasis Tri Hita Karana untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Selain itu, Amit Gupta juga menekankan perlunya pengembangan AI yang inklusif, demokratis, dan berkelanjutan yang berbasis di Bali. “Bali memiliki posisi yang unik untuk memimpin Gerakan Non-Blok AI—memastikan AI memberikan manfaat bagi semua orang, serta mempromosikan kewirausahaan berbasis Tri Hita Karana untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Rangkaian acara ditutup dengan wisuda HDX Cohort 3.0. Melalui kolaborasi dengan Tsinghua University dan MIT, para lulusan membuktikan dampak nyata inovasi AI dalam menjawab permasalahan industri saat ini.