Tarif Hidup Meningkat, Begini Cara Hemat Atur Gaji UMR Biar Gak Boncos

Foto: Ilustrasi UMP Rupiah (Sumber: Unsplash)

goodmoneyID  – Kenaikan tarif Bahan Bakar Minyak (BBM) dan ojek online membuat masyarakat khawatir karena mempengaruhi anggaran rumah tangga. Oleh sebab itu, kamu perlu cermat dalam menghemat keuangan keluarga agar tidak membengkak. Lalu, bagaimana cara mengatur keuangan agar tetap stabil di tengah berbagai kondisi tarif hidup yang semakin naik? Berikut adalah tipsnya.

  1. Bedakan Butuh vs Ingin

Sebelum mengambil keputusan melakukan transaksi, ada baiknya terlebih dahulu memahami perbedaan kebutuhan dengan keinginan. Tertulis dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia nomor 13 Tahun 2012 bahwa komponen dan pelaksanaan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak, di antaranya adalah pangan, sandang, papan, kesehatan, dan lain-lain. Sedangkan keinginan memiliki sifat untuk tidak segera terpenuhi, misalkan membeli smartphone  atau handphone (HP) edisi terbaru karena ingin terlihat mewah.

  1. Tentukan Prioritas Kebutuhan

Memprioritaskan pengeluaran kebutuhan sangat penting. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat daftar mulai dari menentukan apa yang paling penting, hal yang perlu dihilangkan atau dikurangi hingga solusi untuk pengeluaran opsional lainnya. Dalam menyusun prioritas kebutuhan, kamu perlu membaginya menjadi lima yaitu:

  • Kebutuhan Dasar
    Makan sehari-hari, tempat tinggal, listrik, pulsa, transportasi, dan pakaian.
  • Kebutuhan Wajib
    Cicilan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), motor, iuran BPJS, dan uang sewa kos/kontrakan.
  • Kebutuhan Masa Depan
    Menabung untuk dana darurat, menikah, liburan, uang muka KPR.
  • Kebutuhan Sosial
    Bantuan keluarga dan Sedekah.
  • Kebutuhan Pribadi
    Hobi, Fashion dan HP baru.

3. Melakukan Budgeting Pendapatan

Melakukan pembagian anggaran pendapatan sangat membantu keuangan lebih terencana, lho, apalagi dengan rumus 50-30-10-10. Semisal pendapatan berjumlah Rp4,5 juta, maka alokasikan 50% (Rp2,25) digunakan untuk kebutuhan dasar dan kebutuhan wajib. Lalu, 30% pendapatan (Rp1,35 juta) digunakan untuk membayar cicilan utang atau arisan. Sedangkan 10% pendapatan (Rp450 ribu) ditabung untuk dana darurat dan 10% lainnya digunakan untuk keperluan pribadi atau sosial.

4. Mengamankan Dana Darurat

Dana darurat diperlukan untuk antisipasi kebutuhan uang mendesak saat pendapatan turun. Nilai dana darurat harus dimiliki idealnya sebesar tiga kali nominal pengeluaran rutin bagi yang belum menikah dan 6 kali nominal pengeluaran rutin bagi yang sudah menikah. Mengumpulkan dana darurat sebaiknya disisihkan 5%-10% dari pendapatan dan bentuknya bisa disimpan dalam tabungan, emas ataupun deposito.

Tarif hidup yang terus meningkat mendorong masyarakat untuk harus berhemat dalam pengeluaran sehari-hari. Selain melakukan hal-hal diatas sebagai cara untuk berhemat dan hanya sedikit yang menyadari bahwa biaya tersembunyi (hidden cost) pada transaksi keuangan bisa dikurangi.